" Zona nyaman ? Tinggalkan ! Saatnya Belajar Lebih Menyenangkan "

 


"Zona Nyaman ? Tinggalkan ! Saatnya Belajar Lebih  Menyenangkan"

Oleh : Rina Agustina, S.Pd

Guru Penggerak Angkatan 7 GTK KEMENDIKBUD RI

SMKN 1 CIOMAS BOGOR JAWA BARAT

 

            Seorang koki yang menyiapkan hidangan berupa makanan yang akan dinikmati oleh tamu istimewa , dengan tekun mengamati serta mencermati setiap proses , mulai dari penyiapan bahan masakan , pemilihan bahan yang bergizi serta segar , disertai dengan perhatian penuh pada setiap proses pengolahan makanan yang akan disajikan, tidak satupun tahapan kegiatan mengolah masakan diabaikan  , lengkap dengan penjagaan kebersihan serta mencicipi rasa, penjagaan warna dan sampai pada akhir proses memasak dengan menghasilkan masakan yang siap dihidangkan yang bukan hanya menimbulkan selera ketika dipandang, namun juga sedap untuk dinikmati oleh setiap orang.

            Demikian pula , seorang guru profesional yang sedang melaksanakan tugas mulianya dalam proses belajar mengajar bersama siswa. Guru senantiasa memperhatikan  bahan /materi pelajaran, media pembelajaran, analisis gaya belajar dan minat siswa,    instrumen penilaian  serta lembar kerja siswa  yang  digunakan dalam proses pembelajaran dengan muara akhir yaitu pencapaian tujuan pembelajaran secara paripurna  , baik dalam ranah pengetahuan , keterampilan dan sikap . Beraneka ragam elemen suatu proses pembelajaran yang berlangsung juga akan menjadi pusat perhatian dari seorang guru profesional , karena pemilihan metode , teknik dalam bingkai pendekatan pembelajaran serta meramunya menjadi sebuah sajian pembelajaran yang menyenangkan siswa , merupakan sebuah indikator kecemerlangan seorang guru yang menguasai didaktik metodik dengan baik. Penekanan proses pembelajaran yang dipromotori oleh guru dan memberi keleluasaan besar atau ruang  yang luas bagi siswa untuk mengeksplorasi bahkan menganalisis dan menemukan pemahaman dengan sangat baik . Hal ini akan sangat sejalan dan mendukung terciptanya paradigma baru dalam pendidikan yang bertujuan untuk menghadapi tantangan abad ke 21, sebuah paradigma yang menekankan pada pengembangan keterampilan abad 21 , seperti keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi , komunikasi , pemecahan masalah dan literasi digital. (https:// dikbudbangga.id).

            Merujuk pada pemaparan tersebut di atas, bagi seorang guru profesional, menempatkan porsi penilaian pada tataran selama proses pembelajaran ( penilaian formatif ) dengan porsi yang lebih besar menjadi sangat penting . Sebagaimana yang disampaikan oleh Gronlund ( Nasoetion, 1993;5 ) bahwa penilaian merupakan perpaduan antara temuan kuantitatif dan pertimbangan yang dibuat penilai atau hasil penilaian merupakan perpaduan antara temuan kualitatif dengan pertimbangan yang dibuat penilai. Penilaian adalah sebuah suatu proses sistematis yang mengandung pengumpulan informasi, menganalisis dan menginterpretasi informasi tersebut untuk membuat keputusan – keputusan. Maka penilaian formatif sejatinya merupakan sebuah penilaian yang akan berkontribusi dalam peningkatan mutu proses pembelajaran serta menjadikan siswa sebagai pusat atau center pembelajar  , melibatkan siswa dalam setiap sisi dinamika proses pembelajaran dan sekaligus membuat siswa semakin percaya diri dengan proses pembelajaran yang sedang dilaluinya.

            Tantangan bagi seorang guru adalah ketika membuat keseluruhan proses pembelajaran yang berlangsung bersama siswa , merupakan sebuah proses dinamis yang mendewasakan dan memaksimalkan kualitas dengan berporos pada tujuan pembelajaran sebagai Learning Goal. Setiap tahapan proses yang berawal dari perencanaan yang matang ini , harus disertai dengan pemahaman guru memfasilitasi pembelajaran siswa dengan cara menyenangkan, memotivasi, menginspirasi, memaknai dan efektif mencapai sasaran. Maka, catatan berikut ini merupakan implementasi penulis sebagai seorang guru ketika melaksanakan tugas sebagi guru mata pelajaran bahasa Inggris di SMK .

            Sebagai sebuah informasi mendasar yang perlu dimiliki oleh guru yaitu pengenalan siswa terkait minat , gaya belajar dan kebutuhan belajar siswa. Maka pada tahap awal pembelajaran , guru memberikan kegiatan berupa asesmen awal pembelajaran; kogntif dan non kognitif. Namun , kali ini penulis menggunakan asesmen awal ini sebagai kegiatan ‘ fun activity ‘ ; seperti tanya jawab bersama siswa dengan menggunakan emoji pada slide presentasi terkait minat , perasaan siswa tentang materi yang akan dipelajari, lalu memberikan sebuah video pembelajaran terkait materi dan mengadakan seminar di kelas terkait isi video untuk menggali  pengetahuan awal siswa agar dapat dihubungkan dengan materi yang akan dipelajari serta melibatkan siswa dalam kegiatan preview materi yang akan dipelajari. Kegiatan asemen awal pembelajaran ini merupakan kegiatan yang bersifat ‘ asik’ bagi siswa , sehingga siswa  tidak menyadari bahwa hasil kegiatan berupa data awal ini dijadikan bahan atau catatan dan masukan informasi bagi guru untuk merancang proses pembelajaran selanjutnya. Kegiatan penilaian awal ini , dihiasi dengan berbagai aktifitas menarik lain seperti kegiatan ‘Match Game ‘ , setiap siswa diberikan kartu yang berisi sebuah konsep materi  dan setiap siswa diminta untuk mencari jawaban atau tantangan yang tertera di kartu tersebut dengan mencari informasi dari teman sekelas yang mendapatkan juga kartu berisi jawaban atau padanan dari materi tersebut. Informasi yang diperoleh dan tergali dari hasil penilaian yang secara alami dilakukan ini kemudian dicatat dalam bentuk catatan informasi yang terstruktur , mulai dari catatan hasil penilaian kognitif siswa , maupun catatan hasil analisis non kognitif .Guru berperan sebagai observer , fasilitator dan evaluator pada kegiatan awal ini.

            Pada tahap selanjutnya, guru kini memiliki bahan dasar untuk pemilihan teknik, strategi , dan pendekatan pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang ditargetkan. Perhatian guru pada pemilihan strategi atau metode belajar ini senantiasa difokuskan pada perbedaan karakteristik  siswa , terutama dalam perbedaan gaya belajar dan minat yang dimiliki dan perbedaan kebutuhan belajarnya. Dalam pengelolaan bahan pelajaran atau materi pelajaran , guru profesional senantiasa menyiapkan dalam bentuk berbagai media belajar yang menarik dan efektif, baik dalam bentuk visual, auditorial, dan kinestetik . Keseluruhan ragam media belajar tersebut digunakan secara terintegrasi dalam satu rangkaian proses pembelajaran yang holistik sesuai  tujuan pembelajaran. Pembelajaran berbasis proyek ( Project based Learning ) dipilih oleh penulis saat memfasilitasi siswa belajar materi narrative text. Pembelajaran diawali dengan pemberian stimulus berupa pertanyaan pemantik yang membuat siswa berfikir sistematis  untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan tersebut. Kemudian siswa diberikan kesempatan untuk duduk berkelompok ( diferensiasi proses ) dengan mengelompokan siswa berdasarkan model mix / campuran ; terdiri dari siswa dari level rendah, sedang dan level atas dalam setiap kelompok. Tiap kelompok mulai mendiskusikan rencana dan memberikan solusi dari kelompok terhadap stimulus yang diberikan oleh guru di awal sesi kelas . Siswa bersama kelompok  kemudian membuat perencanaan proyek yang akan dibuat oleh mereka , perencanaan yang meliputi; tujuan proyek, agenda kerja , pembagian tugas dalam kelompok. Skema kerja proyek dari tiap kelompok dilaporkan di forum kelas dan setiap kelompok mendapatkan tanggapan dari kelompok lain di kelas. Pada kegiatan perencanaan proyek, siswa telah diberi evaluasi secara alamiah oleh rekan di kelas terkait dengan perencanaan proyek kelompoknya. Desain kelompok rekan di kelas juga secara alamiah menjadi bahan evaluasi  bagi tiap kelompok dengan membandingkan rencana program proyek miliknya. Guru senantiasa memantau proses kegiatan ini dengan memberi dorongan dan motivasi sehingga tiap kelompok akan berupaya meningkatkan kapasitas dan potensinya dengan lebih baik.

            Kegiatan tahapan kedua dari project based learning  adalah kegiatan mengeksplorasi materi proyek. Siswa bersama kelompok  melaksanakan  literacy research untuk menyiapkan berbagai hal terkait proyek yang sudah direncanakan sebelumnya. Guru memfasilitasi siswa dengan menyediakan media belajar yang terintegrasi untuk beragam gaya belajar siswa. Presentasi secara visual ataupun ragam media audio yang mudah diakses oleh siswa . Kegiatan pada tahapan ini memberikan siswa keleluasaan untuk mencari , mendalami ,saling bertanya jawab dan memahami materi agar pencapaian proyeknya dapat dilaksanakan dengan sangat baik. Guru memonitor jalannya kegiatan pada tahapan ini dengan menggunakan lembar observasi terstruktur yang sudah disiapkan . Lembar observasi ini , diinformasikan pada siswa di awal sesi kelas agar siswa terpacu untuk melaksanakan setiap indikator yang terdapat dalam lembar observasi tersebut. Melibatkan siswa dalam perencanaan penilaian juga sebuah strategi jitu agar siswa juga memiliki otoritas untuk menilai dirinya ( self-asessment). Penilaian yang dilakukan dalam tahapan ketiga ini merupakan Asessment as learning , dimana siswa mandiri melakukan penilaian berdasarkan acuan instrumen yang akan diobservasi oleh guru. Siswa merasakan penilaian yang sudah disepakatinya di awal kelas memberikan kesempatan pada dirinya untuk melakukan hal yang terbaik karena siswa merasakan penilaian tersebut juga merupakan penilaian yang diinginkan oleh siswa. Konsep scaffolding diterapkan di sesi ini ,karena guru selalu siap membimbing siswa yang berasal dari kelompok level rendah dengan varian aktifitas yang dapat menyetarakan kemampuannya dengan kelompok dimana mereka berada.

            Tahapan monitor proyek di kegiatan belajar selanjutnya juga merupakan rangkaian monitor evaluasi secara berkelanjutan dimana guru dan siswa secara bersama melakukan penilaian pada pekerjaaan proyek yang sedang dibuat di tahap eksekusi proyek. Guru memonitor pelaksanaan pembuatan karya proyek siswa bersama kelompoknya di kelas dengan menggunakan lembar penilaian teman sejawat. Lembar penilaian teman sejawat ini , diberikan pada siswa untuk saling menilai teman dalam kelompoknya ketika mengeksekusi proyek. Penilaian antar teman memberikan stimulus bermakna bagi siswa untuk terus menunjukan sikap kolaboratif dan saling mengevaluasi selama proses eksekusi proyek berlangsung. Dari catatan lembar evaluasi penilaian teman sejawat ini, kemudian guru melakukan analisis terhadap penilaian  dan memonitor jalannya eksekusi proyek agar dapat terlaksana dengan lebih baik. Tentunya, format penilaian rekan sejawat inipun di tahap awal sesi kelas sudah diinformasikan oleh guru dan disepakati oleh siswa pada forum kelas sebelum proyek dimulai. Dengan demikian, siswa merasakan sebuah lingkungan belajar yang menempatkan siswa sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri.

            Tahapan ahir dari kegiatan proyek based learning adalah tahapan menguji hasil proyek kelompok. Siswa diberikan kesempatan untuk melakukan pengujian pada kualitas atau mutu hasil proyek kelompoknya . Guru berperan untuk memberikan umpan balik positif dan membangun sehingga penguasaan siswa secara alamiah akan terbentuk untuk menguasai hasil belajarnya. Dan tibalah pada saat panen , siswa menampilkan hasil kerja kelompoknya di forum kelas . Kegiatan puncak berupa presentasi dari tiap kelompok di forum kelas memberikan kesempatan yang cemerlang bagi siswa untuk belajar menyampaikan analisis kritis terhadap setiap produk dari proyeknya ,menumbuhkan keterampilan komunikasi siswa dan kemandirian secara penuh.. Pada sesi ini siswa dari tiap kelompok akan mendapatkan umpan balik dari rekan di kelas tentang hasil proyek kelompok. Maka dapat disimpulkan bahwa siswa mendapatkan lingkungan yang  dapat menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh siswa untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan. Assesment for learning yang berlangsung pada kegiatan ini juga memberikan pelajaran berharga baik bagi siswa dan guru untuk meningkatkan kembali proses pembelajaran pada kesempatan di kemudian hari.

            Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan kegiatan refleksi dari siswa dan guru . Pembahasan berkaitan dengan hal positif yang sudah dicapai selama proses pembelajaran dan menggali serta mendiskusikan hal negatif atau kekurangan dari rangkaian proses pembelajaran yang harus diperbaiki dalam kesempatan yang akan datang. Refleksi yang dilakukan dalam suasana terbuka dan nyaman dalam forum kelas ini memfasilitasi siswa dalam memperoleh lingkungan  belajar yang memiliki pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif.

            Sebagai penutup, seluruh rangkaian kegiatan yang ‘asik’ bagi siswa pada setiap tahapan proses pembelajaran akan memiliki makna mendalam dan dapat dijadikan sebagai evaluasi untuk proses pembelajaran berikutnya, bila siswa dan guru memiliki hubungan komunikasi terbuka dan saling berkontribusi dalam perencanaan , pelaksanaan dan akhir kegiatan. Pelibatan siswa dalam setiap tahapan proses pembelajarannya ini memberi wahana yang kondusif bagi siswa untuk menikmati lingkungan yang melatih  keterampilan yang dibutuhkan siswa dalam proses pencapaian tujuan positif baik akademik maupun non akademik.

           

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"It's time to write Descriptive Text "

' Past Tense Vs Present perfect Tense '

' Direct / Indirect speech , Questions and command , prohibition '